dua pucuk kembangku telah gugur bertaburan
hancur berantakan di derah panas yg menyengat
aku layu, mengering, berguguran
hingga tumpah ruah di serambih rumah tua
kemarau kemarin telah menumbangkan bunga bunga cantik ku
semi, anginmu aku tunggu
anginmu aku harapkan
anginmu menyejukkan
menusuk sampai ke rongga nadi
memberi warna pada daun daun ku
cahayamu menghangatkan
memberi cerah pada kehidupan
semi, bukankah kita berbeda paham
engkau lembut, engkau halus,
engkau memberi banyak kesejukan
engkau memberi banyak ketenangan
engkau memberi banyak ilham pada pujangga
engkau adalah nafas bagi banyak makhluk
terkadang aku iri melihatmu, cemburu....
melihat engkau berpelukan pada batu
melihat engkau bermesraan dengan pasir
melihat engkau menari dengan ombak
bercengrama dengan banyak makhluk
kini musim mu telah bergulir
lamat lamat berganti kucuran hujan
butir butir air yang menyentuh tubuh kasar ku
membasahi tiap tiap kulit kering ku
masuk ke pori pori hingga jatuh ke dalam jantung akar ku
aku pasti rindu padamu
semalam aku di belai lembut sapuanmu
diberi wewangian dari negeri seberang
diberi kesejukan hingga pelosok daun ku
puitis sekali engkau malam itu
semi, kini biarkan aku bermain dengan hujan
bercumbu mesrah di balik sela daun ku
bermandikan kemesraan bersama
pada saatnya kita akan bertemu lagi
seperti bumi yang selalu berputar
seperti waktu yang selalu berjalan
mengelilingi matahari dan bulan
hingga di suatu titik kita akan bertemu kembali.
~~ o O o ~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar