Kamis, 10 Oktober 2013

Ceritakan tentang Dia

Tulisan ini di tulis pada pada Pagi dini hari,
pukul 00.50/Rabu/Oktober/27/2012
by yudhi ardianto
Sahabat, berikan aku waktu untuk menulis
mencatat,memberi dan menerimanya
bagiku perlu waktu untuk bersabar 
bagiku perlu menit untuk membaca
dan bagiku perlu sesaat untuk bermanja

Sahabat berikan aku gairah, bukan dusta yg harus ku telan,
bukan kejanggalan yg harus ku baca ,bukan juga alfa yg mungkin engkau lupakan,
tapi berikan aku semangat, agar hidupku serasah kembali, kembali seperti yang
kamu ingin.

sahabat, penamu lebih tajam dari penaku, kertasmu begitu bersih di hadapanku
gayamu lebih pandai bermain kata, hatimu lebih pandai menciptakan suasana
tapi apakah aku lupa, hingga karyaku ku buang begitu jauh
hingga kanvasku kubenam dan kukubur didalam liang lahat

catatan, bahwa aku mampu untuk  menulis, bahwa aku mampu untuk berbagi
namun aku tak mampu untuk menangis, dan aku tak mampu untuk berkorban
tulisan, kalau aku berani untuk berjuang, kalau aku bisa untuk melawan
namun untuk apa aku melawan jika taring musuh yg kuhadapi bgitu panjang
jika cakar yg menghadangku begitu besar menghujamku

sahabat, sepertinya sampai di sini aku melawan
karena ladang yg telah ku tanami telah mati bersama penggarapnya 
karena bibit telah musnah di telan hama
badai telah menelan penderitaanku, di ujung jalan aku hanya bisa berlutut
menyerakkan langkahku bersama zinaku, menelungkupkan penderitaanku
hingga Tuhan kembali mencabutku, memberi nafas hingga suara yg kudengar begitu merdu 
hingga mampu melupakan sakit yang telah ku derah selama hidupku

sahabat, engkau yg paling mengerti, bahwa saudarakupun belum tentu mau mengerti
walau ladangku tercipta dari tanah yg sama 
namun buah yg ku hasil berbeda dari masing masingnya
sahabat, engkau yg paling bisa menyikapi 
walau terkadang jalan yang ku lalui  berbeda
namun begitu biarkan aku mencintainya
biarkan aku memberi nafas padanya
karena tak satupun aku bisa mengerti perasaannya
namun begitu besar harapku kepadanya

sahabat, telah tertanam di hati ini, guratan cinta yg tak pernah pudar,
luntur atau sedikitpun sirna
karena ke asyikkanku menemani dirinya
telah kutulis beribu bait tentang dia
beribu puisi tentang kisahnya
seratus pemahaman tentang dirinya
namun hati ini masih janggal mendengarnya
bukan karena keraguanku padanya
tapi karena kecintaanku pada Muzizatnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar